Menstruasi umum terjadi pada usia 12 – 15

Menstruasi
merupakan siklus reproduksi pada wanita. Gangguan-gangguan yang berhubungan
dengan menstruasi dapat mengakibatkan gangguan pada proses reproduksinya, sehingga penting bagi wanita untuk
memahami proses menstruasi agar dapat menjalankan fungsi reproduksi secara
optimal (Kusmiran, 2011 dalam Yuli S. BR Sitorus, 2015). Menstruasi adalah masa
perdarahan yang terjadi pada perempuan rutin setiap bulan selama masa suburnya
kecuali apabila saat terjadi
kehamilan (Laila, 2011 dalam Mamluatun
Afifah, 2016). Secara fisiologi menstruasi terjadi akibat dari aktivitas
prostaglandin yang tidak seimbang di daerah uterus yang menstimulasi kontraksi
otot polos dinding uterus untuk mengeluarkan dinding endometrium yang diluruhkan (Ganong &
William, 2007).

Biasanya
menarche dimulai antara usia 10-16
tahun dan akan berakhir pada masa menopause
yaitu pada
usia 45-50 tahun. Beberapa studi
epidemiologi mengungkapkan
fakta
bahwa usia menarche remaja
putri
di berbagai negara tidaklah sama. Di negara maju seperti Amerika Utara
rata-rata menarche terjadi pada usia 13 tahun (Bobak edisi 4 dalam Rika
Herawati, 2013). Di Inggris
menarche rata-rata
terjadi pada usia 13 tahun. Di negara berkembang seperti Indonesia rata-rata menarche
terjadi pada usia 10 – 16 tahun. Menurut penelitian Rika Herawati (2013), menunjukkan di Indonesia usia menarche
secara umum terjadi pada usia 12 – 15 tahun dan pada saat ini jenjang
pendidikan yang ditempuh remaja pada usia tersebut pada umumnya adalah SMP. Oleh karena itu
penelitian ini akan dilakukan
pada siswi SMP yang telah mengalami menstruasi.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tidak
sedikit gangguan yang dialami oleh wanita saat
menstruasi, salah satunya yang sering dialami adalah
nyeri haid atau dismenorea.
Nyeri haid merupakan keluhan ginekologi akibat ketidakseimbangan hormon
progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan timbul rasa nyeri. Dismenorea
adalah kekakuan atau kejang di perut
bagian bawah, biasanya nyeri ini dirasakan pada waktu menjelang atau selama
menstruasi (Proverawati&Misaroh, 2009 dalam
Defi Nafiroh, 2013).

Dismenorea
dibagi menjadi dua klasifikasi
yaitu dismenorea primer dan dismenorea sekunder. Dismenorea primer merupakan
nyeri haid yang dirasakan tanpa adanya kelainan ginekologi dan biasanya timbul
pada hari pertama atau kedua dari menstruasi. Nyerinya bersifat kolik atau kram
dan dirasakan pada perut bagian bawah.
Sedangkan dismenorea sekunder adalah nyeri haid yang disebabkan
karena adanya gangguan ginekologi. Menurut penelitian Diana Sari (2013), menunjukan dismenorea
primer sering terjadi pada lebih dari 50% wanita dan 15% diantaranya mengalami
nyeri yang hebat. Dismenorea primer dialami oleh 60-75% perempuan muda. Tiga perempat jumlah
tersebut mengalami dismenorea dengan intensitas ringan dan sedang, sedangkan
seperempat lainnya mengalami dismenorea dengan tingkat berat. Di Indonesia
kejadian dismenorea primer mencapai 54,89% dan ini menunjukan bahwa prevalensi
dismenorea primer lebih besar dari dismenorea sekunder. Sehingga pada penelitian ini, peneliti akan meneliti tentang dismenorea primer.

Dalam
kehidupan di
masyarakat, permasalahan tentang menstruasi masih dianggap hal yang tabu,
padahal menstruasi adalah hal normal yang dialami oleh setiap wanita sehingga
persepsi ini perlu diluruskan dan
hal ini adalah merupakan
tanggung
jawab tenaga kesehatan. Upaya pencegahan dismenorea primer telah dilakukan oleh
sebagian banyak remaja namun tiada hasil yang memuaskan, hal ini dikarenakan
kurang pengetahuan para remaja tentang upaya pencegahan dan penanganan dalam
mengatasi disminorea primer.
Pemberian pendidikan kesehatan diharapkan dapat menambah pengetahuan remaja
putri tentang dismenorea.

Angka
kejadian nyeri menstruasi (dismenorea) di dunia sangat besar. Menurut data WHO rata-rata
insidensi terjadinya disminorea pada wanita muda antara 16,8%-81%. Rata-rata
lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami dismenorea. Di Amerika
angka persentasenya diperkirakan
60% dan di Swedia sebanyak 72%.
Sementara di Indonesia rata-rata 55% perempuan produktif yang mengalami
dismenorea dan angka
kejadian (prevalensi) dismenorea berkisar 45-95% di kalangan wanita usia
produktif (Proverawati&Misaroh, 2009 dalam Defi Nafiroh, 2013).

Dismenorea
sangat berdampak pada remaja putri, hal ini menyebabkan terganggunya aktivitas
mereka sehari-hari. Pada saat mengalami dismenorea, aktivitas mereka di sekolah
terganggu dan tidak jarang hal ini membuat siswi tidak masuk sekolah dan
menyebabkan konsentrasi serta motivasi belajar akan menurun (Kusmiran,
2011 dalam Mamluatun Afifah, 2016). Menurut penelitian Yuli S. BR Sitorus
(tahun 2015), menunjukan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru yang
mengajar di SMP Swasta Kualuh didapatkan keterangan bahwa pada saat proses
belajar mengajar terdapat beberapa siswi yang meminta ijin untuk pulang pada
saat jam pelajaran dan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar saat mereka
mengalami dismenorea. Rasa ketidaknyamanan tersebut jika tidak diatasi akan
mempengaruhi fungsi mental (mudah marah dan sensitif) dan mempengaruhi fisik
(malas beraktivitas, mual, muntah dan pusing).

Tidak
semua remaja mempunyai mekanisme koping baik. Hal ini disebabkan karena informasi yang mereka miliki tentang dismenorea masih
kurang. Pemberian pendidikan kesehatan
diharapkan dapat memberikan informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan mereka sehingga mereka lebih
mengerti dan paham tentang dismenorea dan dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam menghadapi
masalah tertentu. Dalam memberikan
pendidikan kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satunya
dengan diskusi kelompok kecil.

Selain metode, hal penting yang harus diperhatikan
dalam pemberian pendidikan kesehatan adalah media yang digunakan karena semakin
menarik media yang digunakan maka semakin mudah bagi audience untuk memahami
materi yang diberikan. Dalam bidang penyuluhan dan
informasi, salah satu media yang banyak digunakan adalah media flipchart.
Keuntungan dari media ini adalah ekonomis, dapat memberikan info dengan ringkas
dan praktis, mudah dibawa kemana-mana dan membantu meningkatkan pesan dasar
bagi fasilitator atau pengguna media
(Desi
Pratiwi, 2013).

Small Group Discussion
(SGD) atau diskusi kelompok kecil merupakan elemen belajar secara aktif.
Pendekatan ini mempunyai beberapa keuntungan diantaranya lebih memberikan
kesempatan untuk bertanya serta dapat mengevaluasi pengetahuan siswi secara
lisan perorang. Dengan diskusi kelompok kecil, siswa akan belajar menjadi
pendengar yang baik dan memberi umpan yang konstruktif serta menghormati
pendapat orang lain. Aktivitas diskusi kelompok kecil dapat membangkitkan ide,
menyimpulkan poin penting, mengakses tingkat kemampuan dan pengetahuan, memungkinkan memproses outcome pembelajaran pada akhir kelas
dan dapat menyelesaikan masalah (Hery Ernawati, 2014).

Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan di
SMP Negeri 10 Denpasar, dari hasil 10 orang siswi yang diwawancara didapatkan hasil
yaitu 6 orang yang mengalami nyeri saat menstruasi dan 4 orang yang hanya kadang-kadang
mengalami nyeri saat mentruasi. Kemudian 9 orang yang belum pernah mendengar
kata disminorea dan 1 orang sudah pernah mendengar kata disminorea. 10 siswi tersebut
mengatakan belum mengetahui banyak tentang hal-hal apa saja yang bisa dilakukan
untuk mengurangi nyeri saat menstruasi selain tidur dan beristirahat, karena 10
siswi tersebut mengatakan saat mereka mengalami nyeri saat menstruasi, hal yang
mereka lakukan hanya istirahat dan tidur saja.

Berdasarkan
data dan permasalahan diatas dapat diketahui bahwa informasi kesehatan tentang
reproduksi khususnya dismenorea sangat penting 
untuk diketahui oleh remaja putri dan dapat dijadikan panduan pada saat
mereka mengalaminya atau tidak
mengalaminya. Dengan memberikan
pendidikan kesehatan melalui metode small
group discussion dan media flipchart
tentang pengetahuan dismenorea diharapkan dapat menambah pengetahuan remaja
putri tentang dismenorea. Hal inilah yang menarik minat penulis untuk melakukan
penelitian tentang pengaruh small group
discussion terhadap pengetahuan remaja putri tentang dismenorea dengan
media flipchart.